Sabtu, 14 Maret 2009

Perempuan Hamil Penderita Migren Hadapi Resiko Sakit Jantung



Antara - Kamis, Maret 12Beijing (ANTARA/Xinhuanet-OANA) - Perempuan yang menderita sakit kepala sebelah selama hamil menghadapi resiko paling besar untuk terserang bermacam stroke dan penyakit pembuluh darah, kata satu perhimpunan ilmuwan AS yang melandasi pendapat mereka pada studi pengendalian kasus, Rabu.

ADVERTISEMENT

Temuan tersebut, yang disiarkan dalam BMJ, jurnal medis umum internasional, terbitan pekan ini, mendapati bahwa perempuan hamil yang menderita migren 15 kali lebih mungkin dibandingkan dengan perempuan lain untuk menderita stroke, dua kali lebih mungkin untuk mengalami serangan jantung dan tiga kali lebih mungkin untuk menghadapi pembekuan darah dan gangguan lain jantung selama kehamilan.

"Perawatan yang baik sebelum kelahiran diperlukan. Perempuan dengan migren berat yang terus-menerus selama masa kehamilan mesti menyadari semua factor resiko yang mereka hadapi, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, sejarah pembekuan darah, sakit jantung dan stroke," kata pemimpin peneliti dalam studi itu, Dr. Cheryl Bushnell, ahli syaraf di Wake Forest Baptist Medical Center.

"Tampaknya juga ada hubungan antara sakit kepala sebelah dan preeclampsia, salah satu komplikasi kehamilan yang paling umum dan paling berbahaya," kata Bushnell.

Bushnell dan rekannya menganalisis data dari 33.956 perempuan hamil yang didiagnosis menderita migren.

Menurut studi tersebut, sakit kepala sebelah muncul pada sebanyak 26 persen perempuan yang sedang hamil. Perempuan yang berusia 35 tahun ke atas lebih mungkin untuk menderita migren selama kehamilan.

Perempuan yang berusia 40 tahun ke atas 2,4 kali lebih mungkin untuk terserang migren dibandingkan dengan perempuan yang berusia di bawah 20 tahun, dan perempuan kulit putih lebih mungkin untuk terserang sakit kepala sebelah dibandingkan dengan perempuan dari ras atau suku apa pun.

"Migren, terutama yang berkaitan dengan aura atau perubahan visual selama sakit kepala, sebelumnya telah dikaitkan dengan stroke dan serangan jantung pada perempuan," kata Bushnell. "Studi ini lebih mengabsahkan hubungan antara keduanya."

"Tak peduli apa pun penyebabnya," tambah Bushnell, "migren aktif selama kehamilan mesti dipandang sebagai tanda potensi sakit jantung."

Minggu, 08 Maret 2009

Tiap Satu Jam, Satu Perempuan Mati Akibat Kanker Serviks



Kompas - Minggu, Maret 8
JAKARTA , SABTU - Diperkirakan setiap satu jam, satu perempuan Indonesia meninggal karena kanker serviks atau kanker leher rahim. Demikian diterangkan dr. Sri Nurhayati, dokter umum Pemprov DKI Jakarta saat memberikan penyuluhan dalam acara "One Day to a Rewarding Life" di Jakarta, Sabtu (7/3).
Tumbuhnya sel-sel secara tidak normal pada leher rahim ini disebabkan Human Papilloma Virus (HPV). "Kanker serviks disebabkan HPV tipe 16 dan 18," kata Sri.
Karena itu, sedini mungkin setiap perempuan mesti melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah leher rahimnya terinveksi HPV atau tidak. Apalagi, kata Sri, setiap perempuan berisiko terkena infeksi HPV. Pemeriksaan dini menyelamatkan wanita dari kematian.
Pemeriksaan bisa dilakukan mulai umur 20 tahun keatas, karena perkembangan menuju kanker serviks memakan waktu 10-15 tahun. "Artinya rata-rata seorang perempuan terkena kanker serviks di umur 30-50 tahun," terangnya.
Cara penularan HPV, menurut Sri, lewat hubungan seksual dan penggunaan bersama-sama alat pribadi, seperti handuk atau pakaian. "HPV menyerang perempuan setelah berhubungan seks, meski tidak bisa dikatakan virus ini datang dari lelaki. Tapi virus itu sebenarnya juga sudah ada dalam tubuh perempuan sejak di atas umur 10 tahun. Itu makanya sebelum dan sesudah si perempuan melakukan seks (dalam konteks pernikahan) selalu di vaksinasi," terangnya.
Pemeriksaan untuk mengetahui adanya kanker serviks yang disebut Pap Smear atau Inspeksi Visual Asetat (IVA) dilakukan dengan mengambil cairan pada leher rahim, untuk diperiksa setiap sel-selnya.
Bila diketahui kanker sudah diidap, beberapa tindakan (modalitas) untuk menghilangkan HPV penyebab kanker serviks ini antara lain bedah (surgical treatmet), radioterapi (penyinaran), kemoterapi (mengosumsi obat atau di infus), dan terapi paliatif, yang difokuskan pada peningkatan kualitas hidup pasien.
"Namun dari tindakan yang ada ditentukan sejauh mana stadium kanker serviks tersebut. Bila sudah stadium lanjut maka wajib dilakukan tindakan bedah, " kata Sri.

Sabtu, 28 Februari 2009

Obesitas Dan Kurang Aktivitas Fisik Menyumbang 30% Kanker

19 Feb 2009

Kanker merupakan penyakit yang tidak diketahui penyebabnya secara pasti, tetapi dipengaruhi oleh banyak faktor risiko, seperti merokok, diet yang tidak sehat, faktor lingkungan, obesitas, kurang aktivitas fisik, dan stress.

Berdasarkan estimasi WHO, faktor obesitas dan kurang aktivitas fisik menyumbang 30% risiko terjadinya kanker. Berdasarkan penelitian, terdapat hubungan antara kanker dengan berat badan berlebih, diet tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik. Jenis penyakit kanker yang timbul akibat faktor risiko ini adalah kanker kerongkongan (oesophagus), ginjal, rahim (endometrium), pankreas, payudara, dan usus besar.

Demikian disampaikan Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) saat membuka seminar sehari dan talk show bagi anak-anak SD dan SMP di kantor Depkes, Jakarta (18/2). Acara ini merupakan rangkaian Peringatan Hari Kanker Sedunia yang diperingati setiap tanggal 4 Februari.

Saat ini, 1,6 miliar orang dewasa di seluruh dunia mengalami berat badan berlebih (overweight), dan sekurang-kurangnya 400 juta diantaranya mengalami obesitas. Pada tahun 2015, diperkirakan 2,3 miliar orang dewasa akan mengalami overweight dan 700 juta di antaranya obesitas. Di Indonesia, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi nasional obesitas umum pada penduduk berusia ≥ 15 tahun adalah 10,3% (laki-laki 13,9%, perempuan 23,8%). Sedangkan prevalensi berat badan berlebih anak-anak usia 6-14 tahun pada laki-laki 9,5% dan pada perempuan 6,4%. Angka ini hampir sama dengan estimasi WHO sebesar 10% pada anak usia 5-17 tahun, ujar Menkes.

Di dunia, kanker merupakan penyebab kematian nomor 2 setelah penyakit kardiovaskular. Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2003, setiap tahun timbul lebih dari 10 juta kasus penderita baru kanker dengan prediksi peningkatan setiap tahun kurang lebih 20%. Diperkirakan pada tahun 2020 jumlah penderita baru penyakit kanker meningkat hampir 20 juta penderita, 84 juta orang diantaranya akan meninggal pada sepuluh tahun ke depan bila tidak dilakukan intervensi yang memadai, kata Menkes.

Berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 penyakit kanker merupakan penyebab kematian nomor 5 di Indonesia setelah penyakit kardiovaskuler, infeksi, pernafasan dan pencernaan. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevelensi tumor di masyarakat sebesar 4,3 per 1000 penduduk. Sedangkan Data statistik rumah sakit dalam Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2006, menunjukkan bahwa kanker payudara menempati urutan pertama pada pasien rawat inap (19,64%), disusul kanker leher rahim (11,07%), kanker hati dan saluran empedu intrahepatik (8,12%), Limfoma non Hodgkin (6,77%), dan Leukemia (5,93%). Leukemia merupakan kanker yang sering terjadi pada anak, jelas dr. Siti Fadilah.

Tema peringatan Hari Kanker Sedunia tahun 2009 yang dicanangkan oleh Union International Against Cancer UICC adalah I Love My Healthy Active Childhood, dan Departemen Kesehatan mengadaptasi menjadi “Ayo aktif bergerak, bermain, dan makan makanan bergizi untuk cegah kanker”.

Menurut Menkes, perlu upaya bersama untuk mencegah faktor risiko kanker dengan mengkampanyekan aktivitas fisik dan diet seimbang dan sehat bagi masyarakat luas, terutama bagi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

“Kita perlu terus mengkampanyekan untuk menjaga keseimbangan antara energi (kalori) yang didapat dengan energi yang dikeluarkan. Melakukan perubahan kebiasaan sedentary (hanya duduk-duduk tanpa aktivitas fisik) yang akhir-akhir ini semakin luas seiring perkembangan ilmu dan teknologi, seperti televisi, komputer, internet, dan play station yang menyebabkan meningkatnya angka obesitas, dengan mengimbanginya dengan aktivitas fisik yang cukup”, tegas Menkes.

Upaya pengendalian penyakit kanker di Indonesia telah banyak dilaksanakan oleh Depkes dan pihak-pihak lain di luar pemerintah, seperti Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Penanggulangan Kanker Terpadu Paripurna (PKTP), Proyek Female Cancer Control (FcP), Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI), Yayasan Kasih Kanker Anak Indonesia (YKAKI), dan lain-lain.

Dalam memperingati Hari Kanker Sedunia (HKS) tahun ini, Departemen Kesehatan bersama lintas program dan lintas sektor terkait melaksanakan serangkaian kegiatan sebagai bagian upaya global dalam kampanye pencegahan penyakit kanker. Kegiatan yang dilaksanakan adalah seminar dan fun bike untuk anak-anak SD dan SMP. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengkampanyekan gaya hidup sehat sejak anak-anak sebagai generasi penerus bangsa tentang pentingnya diet seimbang dan sehat yang diimbangi dengan aktivitas fisik.

Pesan utama HKS tahun 2009 adalah agar kita mengkonsumsi gizi seimbang, melakukan aktivitas fisik sekurang-kurangnya 30 menit sehari, dan menjaga berat badan ideal selama hidup. Dengan melaksanakan ketiga pesan utama tersebut diharapkan setiap orang memiliki berat badan ideal sehingga risiko untuk terkena kanker juga dapat diturunkan.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52921669, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

RSCM Kembangkan Unit Pelayanan Radioterapi 4D

17 Feb 2009

Hari ini Menteri Kesehatan Dr. dr. Fadilah Supari, Sp.JP(K) meresmikan Pusat Pelayanan Radioterapi 4D Adaptive Image Guided Technology Dan Stereotactic Center di RSCM Jakarta.

Keberadaan unit ini merupakan upaya RSCM sebagai rumah sakit rujukan nasional untuk terus melengkapi dirinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mengurangi ketertinggalan dari negara-negara lainnya, jelas Menkes.

Menurut Menkes, kemajuan peradaban di dunia dan di Indonesia menimbulkan perubahan pola dan gaya hidup masyarakat sehingga berdampak pada perubahan pola penyakit. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan kematian akibat penyakit tidak menular telah mengalami peningkatan, sedangkan kematian karena penyakit menular mengalami penurunan walupun hanya sedikit. Ini berarti, sudah terjadi transisi epidemiologi di Indonesia.

Hasil Riskesdas menunjukkan kematian karena tumor ganas pada usia 15 – 44 tahun menempati urutan ke 5.

Menurut Menkes, dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbagai penyakit baik penyakit menular maupun penyakit tidak menular dapat terdeteksi dengan alat radiologi yang menggunakan tenaga nuklir dan sinar peng-ion maupun non peng-ion.

“Dengan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang radioterapi dan teknologi komputer yang sangat pesat, memungkinkan penderita kanker dapat memperoleh terapi radiasi secara tepat dengan side effect yang seminimal mungkin”, jelas Menkes.

Saat ini Departemen Kesehatan telah melengkapi berbagai sarana pelayanan kesehatan dengan pelayanan radiologi diagnostik, mulai dari puskesmas, klinik-klinik sampai rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta. Kemampuan dan mutu pelayanan radiologi di sarana tersebut masih bervariasi disebabkan oleh fasilitas, peralatan dan sumber daya manusia yang bervariasi pula.

Menurut Menkes, dengan mempertimbangkan meningkatnya peran radiologi pada umumnya dan radioterapi khususnya dalam bidang kesehatan, maka perlu penyiapan yang cermat terhadap kemanan, fasilitas, peralatan dan sumber daya manusia yang kompeten dari segi jumlah maupun kualitas.

Dalam kondisi seperti ini Departemen Kesehatan mengambil kebijakan antara lain melengkapi sarana dan prasarana rumah sakit secara bertahap, di samping pemerataan pelayanan kesehatan sampai ke daerah terpencil dan perbatasan. Sehingga semua masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu.

Menkes meminta, RSCM sebagai RS pemerintah, tidak hanya terus melengkapi fasilitas dengan alat-alat yang canggih, tetapi juga menjaga peralatan tetap terjamin mutunya, yaitu melalui perawatan alat yang adekuat. Sebab pelayanan radioterapi tidak hanya memerlukan teknologi yang tinggi, tapi juga memerlukan biaya investasi yang tinggi. Selain itu, perlu peningkatan profesionalisme sumber daya manusia. Sebab karena profesionalisme makin dituntut oleh masyarakat yang menginginkan pelayanan yang bermutu.

Menkes juga berharap agar sarana yang baru diresmikan ini dapat berfungsi secara maksimal sebagai Pusat Rujukan Nasional Radioterapi untuk membantu pemerintah dalam upaya penyehatan rakyat, tidak hanya bagi masyarakat yang mampu namun juga masyarakat tidak mampu.

Keberadaan Pusat Pelayanan Radioterapi 4D Adaptive Image Guided Radiation Therapy (4D Adaptive IGRT) di RSCM sebagai upaya untuk memberi pelayanan berstandar internasional bagi seluruh pasien yang berkunjung. Departemen Radioterapi RSCM telah mewujudkan harapan masyarakat dari semua lapisan untuk mendapatkan pelayanan mutakhir setara dengan pelayanan di negara tetangga baik dari aspek teknologi terapi radiasi maupun kualitas pelayanan.

Departemen Radioterapi RSCM merupakan 1 dari 8 pusat radioterapi yang diaudit International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai organisasi dunia yang mengawasi penggunaan tenaga nuklir termasuk kesehatan, di samping pengawasan oleh Badan Pengawas Teknologi Nuklir (Bapeten).

Sebagai center pertama dalam pelayanan radioterapi di Indonesia, Departemen Radioterapi telah mewujudkan pelayanan:,

Stereotactic Radiotherapy (SRT) dan Stereotactic Radiosurgery (SRS), sebagai upaya terapi radiasi dengan presisi lokalisasi yang sangat tinggi dengan alat imobilisasi khusus untuk menghancurkan sel tumor tanpa merusak jaringan sehat sekitarnya;
Intensity Modulated Radioteraphy, sebagai teknologi paling mutakhir dalam terapi radiasi yang mampu menghadapi heterogenitas dari target radiasi
4D Adaptive IGRT, untuk memantau gerakan organ pada organ target saat dilakukan terapi penyinaran.

Pusat Pelayanan Radioterapi juga menyediakan pelayanan Red Carpet Services (RCS). Dengan pelayanan ini diharapkan pasien dari kalangan mampu, tidak perlu lagi berobat ke luar negeri.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52921669, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Rabu, 25 Februari 2009

Al Aqso



Description

Masjidil Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya dipindahkan ke
Baitullah sekarang. DI tempat suci inilah Rasulullah SAW melakukan
Isra’ dan dari sana pula ia berangkat Mi’raj. Dalam hadits shahih
disebutkan sebagai salah satu daria tiga masjid yang dianjurkan untuk
diziarahi, yakni Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al AqshaaL

Senin, 09 Februari 2009

zahra meutia